Sejak sebelum masuk SD, anak-anak telah dilatih untuk mandiri: mampu berjalan sendiri ke sekolah, makan, berpakaian, menggunakan toilet, hingga berani menyapa orang lain dengan lantang. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan di Jepang dimulai dari pembiasaan sikap, bukan sekadar kemampuan baca-tulis
Di sekolah, siswa dibiasakan hidup tertib dan bertanggung jawab melalui peraturan ketat seperti larangan membawa uang, gadget, serta kewajiban berjalan kaki ke sekolah. Kurikulum menekankan pendidikan karakter, edukasi moral, keterampilan sosial, serta praktik langsung dalam kehidupan sehari-hari seperti membersihkan kelas, menolong teman, disiplin waktu, dan menjaga kebersihan lingkungan sekolah.
Metode pembelajaran mendorong berpikir kritis, kerja kelompok, penelitian sederhana, eksperimen, hingga penulisan karya ilmiah sejak kelas awal SD. Dengan demikian, anak tidak hanya menjadi pembelajar pasif, tetapi terbiasa meneliti, berdiskusi, dan menyampaikan pendapat.
Peran orang tua juga sangat kuat dalam pendidikan anak. Orang tua terlibat langsung dalam menilai tugas membaca, mendampingi belajar di rumah, hingga hadir dalam kegiatan pembelajaran di sekolah melalui program Jugyo Sankan. Kolaborasi sekolah dan keluarga menjadi kunci utama keberhasilan pendidikan karakter di Jepang.
keberhasilan pendidikan Jepang terletak pada konsistensi pembiasaan karakter, pembelajaran kontekstual, serta kolaborasi erat antara sekolah dan orang tua. Nilai-nilai ini sangat relevan untuk diadaptasi dalam konteks pendidikan Indonesia dengan penyesuaian budaya dan lingkungan lokal.
0 Komentar