Ya Tuhan, Saya Sudah Bahagia, Ini Link-nya

doc. pri
Cogito ergo sum  — aku berpikir maka aku ada.
Barangkali jika Descartes hidup hari ini, ia akan merevisinya:
Aku posting, maka aku ada.

Kehidupan menjadi semacam panggung raksasa.
Setiap kita adalah aktor bagi diri sendiri.
Sarapan bukan lagi peristiwa makan, melainkan konten.
Perjalanan bukan lagi pengalaman, melainkan dokumentasi.
Bahkan kesedihan pun butuh filter. Hahaha ... 

Kita tidak lagi sekadar hidup,
kita mengarsipkan hidup. Berdebu.

Ironisnya, semakin rajin kita merekam, semakin jarang kita merasakan.

***

Pagi ini saya bangun, Bersih diri, Bersih-bersih, Cuci-cuci, jemur cucian, membuat minum, menata meja, baca buku dan jurnaling, bahkan dalam seharian ini akan banyak agenda.

Saya hidup.Tetapi standar zaman sekarang..., saya belum tentu hidup. Sebab saya tidak mengunggah apa pun. Tidak ada “good morning world”, tidak ada foto cangkir dengan hashtag #grateful, tidak ada story 15 detik yang membuktikan bahwa saya benar-benar bernapas. 

Algoritma pun bingung. Teman-teman lebih bingung lagi. "Kamu apa kabar? Kok lama nggak update status/ nggak posting? Sehat kan?

Halooo? detak jantung kini diukur oleh notifikasi. "Dig dug, dig dug, dig dug." "Ting tung ting tung."

Dulu orang dianggap karena kehadirannya, sekarang seseorang dianggap ada karena postingannya. "Memangnya kalau tidak posting sudah mati? memangnya kalau tidak posting tidak hidup dan tidak punya aktivitas? -_-"

Zaman ini memang aneh.
Kita tidak lagi bertanya, “Apa kabar?”
Tetapi, “Kenapa nggak update?”

Lucu sekali.

Ternyata kecerdasan hari ini bukan diukur dari apa yang dipahami,
melainkan dari seberapa sering muncul di beranda.

Ilmu kalah oleh engagement.
Hening kalah oleh highlight.
Kehidupan nyata kalah oleh story 24 jam.

Ironisnya,
kita lebih rajin memotret makan siang
daripada benar-benar menikmatinya.

Lebih sibuk mengabarkan bahagia
daripada sungguh-sungguh bahagia.

Sepertinya kita hidup bukan untuk mengalami,
tetapi untuk membuktikan bahwa kita mengalami.

Segalanya harus terdokumentasi,
seolah Tuhan pun perlu bukti visual:
“Ya Tuhan, saya sudah bahagia, ini link-nya.”

Padahal ... mungkin,
kemewahan terbesar di era ini justru sederhana:
bisa hidup tanpa perlu dilihat.

Tanpa validasi.
Tanpa notifikasi.
Tanpa takut hilang dari linimasa.

Karena kabar baiknya:
manusia tidak pernah mati hanya karena tidak update status.

Kadang dia hanya sedang hidup sungguhan.

Offline.

Posting Komentar

1 Komentar